Tren Bertanam Hidroponik Menumbuhkan Peluang Usaha Baru

Memasuki tahun 2015, Achmad merasa tren bercocok tanam hidroponik semakin naik. "Saat ini, hidroponik booming karena cocok diterapkan pada lahan terbatas. Selain itu, masyarakat sekarang juga sudah lebih sadar kesehatan. Kemudian, sayur hasil hidroponik rasanya lebih nikmat. Dengan hidroponik pula kita bisa menanam beragam jenis sayur yang selama ini harus diimpor," terangnya.

Tak hanya itu, "Tren hidroponik juga menumbuhkan peluang usaha baru dengan menyediakan beragam kebutuhan hidroponik. Saat ini, saya juga memberikan pelatihan hidroponik secara formal. Setiap bulan akan ada pelatihan, yang terdekat 14 Februari besok," ujarnya.

Ditemui di tempat terpisah, pemilik Parung Farm, Sudibyo Karsono (81) juga mengatakan hal yang sama. Menurut pria yang sudah menekuni hidroponik sejak 1998 itu, pasar hidroponik masih terbuka luas.

"Untuk itu saya membuka pelatihan bagi siapapun yang ingin belajar hidroponik dengan biaya murah. Bila di kemudian hari peserta pelatihan mengalami masalah, dapat berkonsultasi setiap waktu tanpa biaya," ujarnya.

Untuk menampung minat besar masyarakat dalam belajar, "Pelatihan hidroponik dilakukan setiap hari Sabtu minggu ke-2 dan ke-4 setiap bulan, dari jam 9 sampai selesai. Rata-rata peserta di setiap sesi pelatihan berjumlah 12 hingga 20 orang. Pelatihan itu sengaja dilakukan di Parung Farm dan Hydrofarm, sehingga peserta dapat melihat secara langsung pertanian hidroponik," terangnya.

Kolesterol Pun Turun
Bercocok tanam secara hidroponik dipilih Wirawan Hartawan (55) sejak ia mengadopsi gaya hidup sehat 3 tahun silam. "Dari hasil pemeriksaan kesehatan, diketahui bahwa otak bagian kiri saya tidak kebagian darah. Dokter bilang, salurannya mampet. Dokter menyarankan agar saya mengubah gaya hidup. Saya yang awalnya tidak suka sayur akhirnya harus makan sayur. Sejak mengonsumsi sayur, kolesterol saya yang awalnya 287 sekarang jadi 113," terangnya senang.

Sayur yang dipilih Wirawan adalah hasil pertanian hidroponik yang diyakininya memiliki banyak nilai plus ketimbang sayur hasil pertanian lain. Namun, harga sayur hasil pertanian jenis ini masih sangat tinggi. Dalam sebulan, Rp9,8 juta harus ia keluarkan demi membeli beragam sayur hidroponik.

"Sekitar tahun 2013, saya kemudian berpikir untuk mencoba menanam sayur dengan teknik hidroponik sendiri. Saya lalu pergi ke Institut Pertanian Bogor (IPB), ingin belajar hidroponik. Ternyata, di sana enggak ada yang bisa mengajarkan," tukasnya.

Akhirnya, lanjut Wirawan, setelah mencari informasi dari berbagai sumber. "Saya memutuskan untuk belajar hidroponik di Kanada. Mengapa? Karena di sana pertanian hidroponik lebih maju, bahkan mereka memiliki Hydroponics Research Center (Pusat Penelitian Hidroponik)."

Bikin Seminar
Sepulang dari Kanada, Wirawan langsung menerapkan pertanian hidroponik skala kecil di rumahnya, "Dalam waktu tiga minggu sejak tanam, kangkung tumbuh besar dan sudah bisa dipanen. Padahal kalau menggunakan teknik penanaman dengan tanah, kangkung butuh waktu sebulan baru panen," ujarnya.

Panen sayur rumahan Wirawan juga melimpah. Hasilnya kemudian ia bagikan ke saudara dan teman-temannya. Semakin lama, "Semakin banyak orang yang mau belajar hidroponik. Karena capek harus mengajari satu-satu, akhirnya saya bikin seminar. Sekarang, jadwal seminarnya sudah penuh sampai akhir April 2015 depan."

Melihat tingginya animo ma­sya­rakat untuk belajar hidroponik, Wirawan lalu men­dirikan pe­r­usahaan bernama Hydrofarm di kawasan Jakarta Barat. Perusahaan ini digunakannya untuk menyebarluaskan beragam informasi seputar hidroponik. Di tempat itu pula, Wirawan menyediakan segala perlengkapan hidroponik mulai dari bibit, pupuk dan lain-lain.

Dengan segala keunggulannya, hidroponik dipercaya Wirawan sebagai jawaban bercocok tanam di lahan terbatas atau yang kurang subur karena hidroponik adalah teknik bercocok tanam tanpa menggunakan tanah. Sesuai dengan namanya, hidroponik berasal dari dari kata Yunani hydro yang berarti air, dan ponos yang artinya daya. Jadi hidroponik berarti bercocok tanam dengan menggunakan air.

"Saya berharap suatu saat nanti setiap rumah tangga di Indonesia mampu memproduksi sayur mayur. Dengan hidroponik, lahan seluas 1 meter x 2 meter, hasilnya cukup untuk empat orang selama sebulan. Sehingga pada akhirnya, setiap manusia dapat hidup lebih sehat dan Indonesia akan berjaya," kata Wirawan.

Sumber: TabloidNova.com